Saturday, October 17, 2009

Trouble

Pada suatu malam, aku terjebak dalam segi empat kamarku demi mencoba menuruti saran sahabat baikku untuk mengurung diri saja di kamar bila datang stres.
Tak tahu apa yang harus dilakukan, aku merasa kosong.
Kompie eror, seperti biasa menuruti suasana hati dan pikiran juragannya. Membaca buku pun anehnya tambah membuatku gelisah. Sialnya lagi, DVD yang ada cuma drama, genre film yang alergi kutonton bila hati sedang kacau.
Jadilah aku hanya menyalakan televisi, dan berhenti pada satu channel yang menayangkan Safa dan Marwah.
Ya, sinetron itu!
Sinetron yang sepertinya menjiplak Prince & The Pauper.

Kurasa tak perlulah kuberitahu apakah aku suka atau tidak suka menonton sinetron.
Menurutmu ?

Jadi, tentang Safa dan Marwah.
Sepertinya dua anak gadis ini adalah saudara, atau kemungkinan malah kembar.
Safa adalah anak orang kaya dengan keluarga yang bahagia. Gadis satunya, Si Marwah, hanya hidup dengan Ibunya yang miskin. Ia harus bekerja mencukupi kebutuhan keluarganya setelah Si Ibu tak lagi bisa bekerja karena sakit entah apa yang membuat perutnya luka.
Entahlah, aku tak pernah menonton episode-episode sebelumnya.

Jadi, di episode yang aku tonton itu, diceritakan konflik yang dihadapi dua anak ini.

Konflik Safa, adalah dilarang berhubungan dengan laki-laki yang disukainya, karena walaupun berakhlak baik, anak laki-laki ini tak berada. Safa sampai diskors dilarang keluar rumah karena itu. Hukuman itu membuat Safa sedih, selalu melamun, sampai tak berselera makan.

Sementara Marwah, diceritakan tak bisa membayar uang kontrakan, karena uang gajinya dijambret orang, sehingga ia dan Ibunya diusir oleh si induk semang. Mereka pun pergi menumpang bis tanpa tujuan. Tak tanggung-tanggung si penulis skenario membuat cerita, pada saat turun dari bis, barang-barang mereka, yang mungkin seluruh harta mereka terlambat diturunkan hingga terbawa bis. Jadilah mereka malam itu berjalan kaki tak tentu arah, belum makan, dan tak tahu harus bermalam di mana.
Setelah berjalan cukup jauh, tibalah konflik sesungguhnya. Tiba-tiba jahitan di perut Ibu Marwah terbuka dan berdarah. Marwah menangis meminta pertolongan kepada siapa saja yang lewat di pinggir jalan itu. Tak ada yang mau menolong, bahkan sopir taksi pun tak mau mengulurkan tangan setelah mengetahui bahwa calon penumpangnya itu tak punya uang sepeser pun. Akhirnya anak gadis yang tak punya uang itu hanya bisa menangis di pinggir jalan bersama Ibunya yang pingsan kesakitan.

Sampai di sini, cerita itu terpotong iklan, dan aku kemudian memindahkan channel. Berikutnya aku lupa untuk kembali lagi ke sinetron itu. Aku terlalu disibukkan dengan pikiranku sendiri tentang kejomplangan yang mereka alami.

Uang memang bukanlah penentu kebahagiaan. Contohnya saja Safa. Ia bisa makan enak, tapi tak bahagia ditiran oleh orang tua. Tapi Marwah, karena sama sekali tak punya uang, juga begitu menderita tak bisa menolong Ibunya yang kesakitan di depan matanya.

Semua orang memang punya masalah sendiri-sendiri, tapi bila kondisinya seperti Marwah yang berhadapan dengan ancaman nyawa Ibunya, dan permasalahan Safa berkaitan dengan cinta yang terhalang, bisakah dibandingkan ?

Begitulah kenapa aku merasa tak pantas untuk mengabarkan bahwa aku sedang bahagia di depan mereka yang terlilit masalah besar.
Tapi juga aku malu mengakui bahwa aku bersedih sementara kesedihan mereka jauh lebih perih.
Aku tak bisa membagi masalahku karena yang kuhadapi ini begitu sepele dibandingkan dengan masalah mereka.
Walaupun otak dan hatiku begitu capek seolah rasanya kaki di kepala dan kepala di kaki, aku memilih menyibukkan pikiranku sendiri dengan memikirkan masalah orang lain, supaya aku bisa terus menganggap bahwa masalahku ini tak ada artinya.

Tapi bila suatu ketika nanti duniaku runtuh, siapakah yang akan menopangkan langit untukku ??



Draft ditulis 3 Oktober 2009, di atas busway yang membawa separuh hatiku pulang.
Kepada saudara-saudaraku di Padang, maafkanlah keegoisanku.



Friday, July 17, 2009

Misuh

Komputerku hang (lagi). Dan karena si kompie itu dan aku senyawa, maka bila ia kenapa-napa, aku lah yang sakit, meriang, sakit kepala.
Benar. Ini bukan melebih-lebihkan.

Saat menyalakan komputer tadi, tiba-tiba layar hitam itu yang kuhadapi, meminta booting.
Haiyah.
Setelah jurus putus asa memencet tombol kecil bernama "reset" itu tak berhasil, terpaksalah kuinstal ulang. Tapi alamak, bagus bener, hardisk-nya tak terbaca!
Ada apa dengan hardiskku??

A*U!!
Monyet!

Ah, oke...
Astaghfirullah.

Masalahnya, bukan sekali dua ini hardisk itu bermasalah. Pernah pertama kali waktu ia menghilangkan empat bab skripsiku. Kemudian yang kedua, menghilangkan koleksi foto bayi Uwen. Dan yang ketiga... membuatku diomeli Kakakku karena banyak datanya yang hilang tak bisa diangkat, dan aku pun dilarang mengutak-atik komputer lagi.

ATU!!!

Uhm, apakah kau suka menyumpah? Misuh?
Aku iya.
Tapi tak terbayang apa jadinya bila semua pisuhan yang keluar dari mulut kita ini menjadi nyata, ya...
Jangankan kutukan, menyumpah pun akan dahsyat sekali akibatnya.

Jika saja kita hidup di masa Mahabharata, di mana kutukan Gandari bisa membunuh Krishna, dan kutukan Urwasi bisa membuat Arjuna menjadi kasim, maka sekarang ini jumlah manusia akan menyusut dan jumlah binatang membengkak. Dan aku pasti punya kandang besar untuk monyet, dan hahaa, walaupun lebih sedikit jumlahnya, kau pasti tahu apa yang satu itu.



PS :

Sstt, aku yakin banyak teroris akan bertransformasi menjadi beragam bentuk hari ini, jika saja semua pisuhan dan kutukan itu dihitung sebagai doa yang langsung dijawab.


Foto Munyuk'e dari sini

Thursday, July 9, 2009

Bunuh Diri dan Nama Baik

Baru-baru ini seorang teman bicara tentang pencemaran nama baik. Tak pelak, aku menengok kalender dan yakin, bahwa kasus Prita sudah lewat lama, tergantikan oleh meninggalnya Michael Jackson dan Debat Capres, dan sekarang sudah ketahuan siapa yang akan melanjutkan kerja siapa.

Ia, temanku ini bercerita, bahwa sebuah gosip dihembuskan untuk mencemarkan nama baiknya, dan dengan demikian hampir membunuh karakternya. Katanya …

Haiyah, kenapa aku jadi bergosip ??

Begini …

Aku hanya teringat cerita Putri Hsiang dari jaman Dinasti Ching. Putri Hsiang ini adalah selir Kaisar Chien Lung yang tubuhnya mengeluarkan bau wangi karena selalu mandi dengan air susu unta berpunuk dua. Ia dijuluki Selir Harum yang tariannya bisa mengundang kupu-kupu. Sesungguhnya aku tak begitu yakin bagaimana cerita sebenarnya, ada begitu banyak versi, dan terlalu banyak khayal dan fiksi yang disematkan pada cerita ini.

Yang pasti ia berasal dari suku Uighur, dekat-dekat Turki, muslim katanya. Ada versi yang menceritakan bahwa ia adalah tawanan saat tanahnya dikalahkan, dan ada yang bilang ia dihadiahkan oleh Ayahnya kepada Kaisar Chien Lung sebagai bentuk transaksi politik.

Apa pun versinya, hampir semua bersepakat bahwa ia mati di dalam Kota Terlarang, dibunuh. Penyebabnyalah yang simpang siur. Diceritakan ia mati karena berusaha membunuh Kaisar, dan ada pula yang menceritakan kematiannya sebagai akibat dari kecemburuan Permaisuri dan kebencian Ibu Suri.

Yang pasti, Hsiang Fei, atau Selir Harum, atau Epar Khan ini meninggal, dibunuh.
Dan untuk melindungi nama baik Sang Putri dan memulihkan kehormatannya, Istana mengumumkan dan dicatatkan dalam sejarah, bahwa Putri Hsiang telah bunuh diri dengan terjun ke sumur atau menggantung diri.

Di sinilah maksudku, bagaimana bisa tindakan bunuh diri disepadankan dengan kehormatan dan nama baik?
Tunda dulu perbandingan dengan samurai dan filosofi kehormatannya yang rumit, itu (mungkin) berbeda.

Tapi bila tentang seorang wanita, yang karena intrik politik dan kedengkian orang lain ia dibunuh, lalu demi kehormatan nama baiknya, kemudian ia diberitakan telah bunuh diri, di mana logikanya?
Sama sekali tak sampai ke otakku.

Aku sendiri akan lebih bangga bila kematianku disebabkan oleh pembunuhan dari pada karena bunuh diri.
Tentu saja banyak yang menjadi pertimbangan, seperti misalnya tahun berapa cerita itu berasal, bagaimana kondisi masyarakatnya, cara berpikir orang-orangnya pada zaman itu, atau keyakinan yang mereka anut. Akan ada banyak bahasan dan pembenaran.

Tapi aku menolak mengerti.
Walaupun aku tahu ada banyak celah untuk membenarkan tindakan orang-orang yang hidup jauh di masa lalu itu, aku tetap tak bisa berempati.
Aku tak mau memahami, karena walau sampai pusing pun aku berputar memikirkan, pertanyaan dan kegelisahanku tak jua terpuaskan.

Bunuh diri, bagiku adalah pencemaran nama baik yang sesungguhnya.
Tanda bahwa kita lemah, tak berdaya, berpikiran pendek, dan tak punya iman.



Untukmu sahabatku yang terobsesi pada mati, berhentilah bicara tentang bunuh diri.
Aku membencimu untuk itu.
Aku benci pada kata-kata yang kau olah itu, serius atau pun hanya meminta puji.

Dan kau boleh yakin, pada hari ketika seharusnya kau diyasinkan,
aku akan mencela keputusanmu dan berkata,
bahwa kau mati karena terlalu takut hidup.




Monday, July 6, 2009

Menunggu


Lampu itu benderang setiap malam meminta pertolongan.
Tidakkah kau lihat ?
Bukankah langitku adalah langitmu jua ?


Sudah pernah kukatakan, pahlawan tak perlu menyaru menjadi pujangga, karena dirinya sendiri adalah puisi.

Menghitung hari ternyata bukan cuma ungkapan.

Kau lihat Prabowo sudah pasrah menjadi wakil saja.
Manohara juga sudah kembali.
Dan Michael Jackson mati.
Rambutku yang sepunggung itu pun sudah kupangkas pendek.

Tapi kau belum kembali.
Lalu lagu apa yang sekarang harus kunyanyikan ??


Sunday, June 28, 2009

Mimpi Buruk

Teruslah membaca, kawan, atau lompatilah sampai paragraf empat.
Aku tak sedang menakut-nakutimu. Ini bukan cerita hantu.

Seorang teman bercerita bahwa tadi malam ia tindihan. Kau tahu apa itu tindihan?
Aku tak tahu, karena belum pernah mengalaminya.
Beberapa temanku acap mengalami peristiwa ini. Kata mereka, tindihan adalah suatu situasi menakutkan di mana tubuhmu tak bisa bergerak, berat seperti ada kekuatan yang menindihmu. Kekuatan yang berasal dari makhluk alam lain yang datang ketika kau sedang tidur.

Ada yang mengatakan bahwa yang datang ini adalah makhluk hitam besar yang mungkin bernama Genderuwo, atau seperti temanku tadi malam, ia didatangi oleh makhluk (mungkin) perempuan yang berwujud seperti manequin. Seksi, iya, tapi juga keras tak bernyawa tak bermata tak berhidung tapi bermulut yang berusaha menghisapmu seperti Dementor.

Kau tak bisa bergerak, tapi masih bisa berpikir.
Masih bisa memotivasi diri untuk bangun.
Masih bisa mengucap doa dalam hati.

Hanya mimpikah, atau betul-betul nyata ?
Entahlah, aku tak ingin terkesan sok jago dengan mengatakan bahwa itu cuma mimpi. Aku belum pernah mengalaminya. Dan aku juga tak ingin mendebat hal-hal di luar akalku, lebih lagi karena hal itu ada di luar kemampuan dan pengetahuanku.

Jadi lebih baik kita bahas masalah mimpi buruk saja, karena tadi malam pun aku bermimpi, mimpi yang bisa kukategorikan buruk.

A
pakah tadi malam kau juga bermimpi buruk? Iya?
Apakah kau terbangun, langsung terduduk di tempat tidurmu, berkeringat dan nafasmu naik turun persis seperti di film-film horor?
Apakah kau kaget seolah kau baru saja ditampar?
Ataukah kau tiba-tiba bangun dan matamu nyalang menatap langit-langit kamar?
Atau seperti aku, kau tersenyum dan menarik nafas lega?

Apa memangnya ketakutan terbesarmu sampai kau menyematkan label buruk dalam sebuah mimpi?
Bunga tidur. Kata orang tua zaman dulu, mimpi adalah bunga tidur, a
tau pun pengharapan yang berada jauh di belakang otakmu. Kata mereka juga, mimpi adalah visualisasi ketakutanmu.

Mimpi yang bisa kubilang buruk adalah mimpi bahwa hari ini aku harus masuk kerja, tapi aku langsung tersenyum menyadari bahwa ini hari Minggu.
Mimpi yang bercerita tentang pertengkaranku dengan seorang teman baik, dan kelegaan yang menyertai begitu aku bangun.
Mimpi tentang mantan pacar yang sudah punya pacar baru. Kalau yang ini aku memang was-was.
Atau mimpi bahwa aku sudah membuat marah orang tuaku. Aku bangun dengan ketakutan, tapi sungguh rasanya aku ingin menangis lega menyadari ternyata itu tak nyata.

Aku tak pernah ingat mimpi buruk lain, seperti yang sering diceritakan di film-film horor. Kecuali satu.
Mimpi tentang ular.
Kau belum tahu kan, aku phobia dengan ular.
Aku takut, jijik, ngeri. Gilo. Aku gilo.

Masalahnya, setiap aku mendengar ada yang menyebut nama hewan ini, setiap kali aku melihat gambarnya atau melihatnya di TV, ia selalu datang dalam mimpiku.
Dalam mimpi itu, aku selalu berada dalam satu ruang tertutup bersamanya. Entah satu entah banyak. Dan di luar sana, ada orang-orang yang selalu saja tak mau menolongku, sekeras apa pun aku menangis dan minta tolong.

Kata orang yang percaya mimpi, mimpi tentang ular, dikejar atau pun digigit itu artinya akan dapat jodoh.
Manalah kupercaya, sedangkan mimpi itu selalu membuatku takut, mengigau, dan kehabisan nafas sampai kadang aku harus dibangunkan.

Haih, apalah...
Yang pasti aku selalu bersyukur setiap kali bermimpi buruk, karena aku tahu bahwa itu hanya ada dalam tidur.

Monday, June 22, 2009

Uang Receh

Malam itu di angkringan Kali Code, aku berpura-pura menjadi melarat dengan menyantap nasi bungkus berisi lima sendok dengan lauk beberapa gelintir teri atau beberapa potongan kecil tempe, yang populer disebut nasi kucing, sebagai menu makan malam.

Bersama tiga orang teman, kami bercengkerama, berlagak menikmati kesahajaan menyebut diri membumi. Padahal yang sebenarnya adalah, kami hanya gagal mendapat tempat di angkringan ber-hotspot yang bernama House of Raminten.
Duduk lesehan di atas gelaran tikar, menyediakan receh untuk pengamen dan peminta-minta yang lalu lalang.

Lewat pengamen waria dengan dandanan seperti Dewi Perssik membawakan lagu "Ketahuan".
Lalu ada peminta-minta usia remaja yang berwajah murung.
Dan Nenek-Nenek yang berjalan tertatih-tatih, berucap, "Den, pareng, Den.."
Anak gadis bersuara lantang membawa ecrek-ecrek yang terbuat dari tutup botol.
Ibu-Ibu nyinden.
Pemuda gagah memetik gitar "Seize the Day" milik Avenged Sevenfold.

Sampai....
Lewatlah seorang anak perempuan berumur sekitar 8 tahun meminta uang makan.

Aku sudah terbiasa bertemu dengan mereka. Hatiku sudah terlatih untuk shock, tersentuh, dan merasa normal lagi di menit berikutnya.
Tapi di belakang gadis kecil ini, berjalan adiknya.

Kecil. Memakai celana panjang putih. Kepalanya ditutup rapat dengan kupluk jaketnya. Sepatunya pun rapat tertutup berwarna putih.

Masya Allah!
Umurnya tak lebih dari 2 tahun!
Siti Munawaroh namanya.

Anak itu seumuran Uwen!
Dan itu sudah jam 10 malam.
Pada jam itu Uwen pasti sudah tidur, hangat, kenyang, dicintai, banjir perhatian, masa depannya sudah dipersiapkan.

Tak jelas apa yang mendorongku meraih anak itu. Kupangku ia. Kudekap. Kucium.
Demi Tuhan. Dia masih kecil.

Ia menguap, dan kurasakan badannya mulai melemas dalam dekapanku.
Kemudian si Kakak menariknya, mengajak berkeliling lagi.

Ya Allah.
Ya Allah.

Selain uang kecil yang kuberikan untuknya, apa lagi yang bisa kulakukan untuk menghilangkannya dari bayangan mataku?!
Tolong!

Friday, June 19, 2009

Guilty Pleasure

Perih.

Tak kusangka melakukan suatu aktivitas yang begitu standar dan menyenangkan seperti makan bisa membuatku kena masalah. Bukan karena perutku menolaknya, bukan pula karena aku tak suka rasanya. Justru aku sangat suka, dan seperti semua kenikmatan lain, aku terus-terusan melakukannya sampai lidahku lecet dan bibirku terasa asin.

Makan kwaci.
Kau masih ingat kan, cemilan ini begitu populer waktu kita kecil. Aku tak tahu kandungan gizinya, yang kutahu hanyalah bahwa makan kwaci ini begitu mengasyikkan.
Lama aku tak pernah lagi makan kwaci. Kemarin, tiba-tiba aku melihat di atas meja makan ada sebungkus besar kwaci biji bunga matahari. Seketika aku menyambarnya dan berkumpul bersama orang rumah sambil tak henti-henti menelateni kwaci, mengabaikan hal lain yang membutuhkan perhatian kami, sambil cekikikan menghitung kegembiraan kami pada kesenangan yang lugu ini. Semacam nostalgia, kami tak henti-henti bercerita tentang pengalaman makan kwaci ketika kecil, dan hal itu merembet pada cerita lain.

Ukurannya tak lebih dari kuku jari kelingking, penampilan luarnya kisut dan jelek, dan isinya pun tak terasa istimewa. Malah mendekati hambar. Tapi entah kenapa cemilan ini begitu adiktif. Kata orang, karena diperlukan suatu usaha yang keras untuk bisa menikmati isinya, jadilah dagingnya itu menjadi sangat berharga.
Hm, definisi yang filosofis.

Memang perlu teknik tersendiri untuk memakan kwaci, tak asal buka dan telan saja. Teknik ini sepertinya secara alami kita pelajari waktu kecil dulu. Kombinasi antara menggigit dan menjulurkan lidah. Dan untuk melakukannya, dibutuhkan konsentrasi dan posisi yang mapan, tak bisa disambi dengan hal lain.
Ya, mungkin bisa, tapi hanya dengan satu tangan. Dan dengan separo perhatian tertuju pada kulit dan isinya yang berlomba itu, ada kemungkinan tertukar antara kulit dan isi sehingga bisa-bisa kita menelan kulitnya dan membuang isinya, bisakah kita, paling tidak, 80% mengerjakan hal lain?
Kurasa inilah pembeda kwaci dan cemilan lain.

Sekali memakannya, kita tak bisa berhenti. Baru terasa akibatnya bila mulut sudah jontor, dan saat itu pun, kita terus melakukannya sampai habis atau bila kita terpaksa harus melakukan hal lain.

Semacam guilty pleasure?

Jadi, apa guilty pleasure-mu?
Main internet tak sudah-sudah walaupun jam dinding menunjukkan jam 11 siang, sementara pekerjaanmu belum ada yang beres?
Melirikkan mata beberapa derajat dari pacarmu ke arah makhluk sexy itu?
Mengantongi sabun dan shampo hotel?
Nyolong mangga?
Nonton bokep?
Membatalkan puasa sebelum bedug Magrib?

Bila kau tanya aku, wah, daftarnya bisa menjadi sangat panjang.
Seingatku daftar itu sudah kumulai sejak aku masih 4 tahun, ketika setiap hari aku membuang susu yang harus kuminum ke petak bunga. Aku merasa bersalah, tapi juga ada rasa senang yang aneh ketika aku berpikir aku bisa mengelabui orang tuaku.
Mana pernah aku menyangka waktu itu, bahwa Ayahku yang setiap sore menyiram tanaman bisa melihat kenapa bunga-bunganya bisa berwarna putih.

Tentu analoginya tak terbatas, dan contohnya bisa diperlebar.
Tapi untuk sementara ini, kwaci inilah yang begitu menyentuhku. Karena aku masih tak bisa berhenti walaupun sudah lecet, separo jontor, dan perutku menggelegak karena belum diisi nasi sejak siang.

Bahkan sekarang pun, asal kau tahu, membutuhkan waktu yang lama untuk menuliskan cerita sederhana ini, karena aku melakukannya sambil makan kwaci.
Atau makan kwaci sambil menulis?

Ups,
Tertukar lagi, aku lagi-lagi menelan kulitnya dan membuang isinya.
Makan kwaci itu memang tak boleh diselingi dengan kegiatan lain.



Wednesday, June 17, 2009

Penyakit Hati


“Sakit hatiku, Muzda. Tega dia nusuk aku dari belakang."

Hati yang sakit apakah obatnya ?
Waktu.
Tak ada penawar yang lebih ampuh lagi.

“Aku patah hati .... Muzda tolooong. Rasanya mau gantung diri saja.”

Patah hati ?
Patah jadi dua atau pun remuk berkeping-keping, selalu ada lem pelekat yang bisa menyatukannya lagi.

“Hancur, hancur hatiku. Hatiku hancur."

HanTu ?
Oh, Olga terlalu hancur rupanya, sampai cuma dua kata itulah yang bisa diucapkannya.
Apakah ia bersedih terus-terusan ?
Tidak. Olga lebih banyak tertawa. Karena siapa bilang hati yang hancur itu selamanya? Ia bisa direbuild dengan teknik yang tak pernah kita pelajari.

Hati itu juga kasihan, ia bisa jatuh.
Jatuhnya sering membuat orang tertawa dan juga menangis sekaligus.

Bohong besar bila hati sakit sampai berdarah, kita bisa mati.
Apa lagi bila nestapa ini disebabkan oleh jenis cinta yang hanya dipandang dari sudut yang sempit. Cinta kepada lawan jenis?

Haih, mati sajalah sudah.

Ya, aku memang pernah mengaku patah hati. Siapa pula yang tidak ?
Tapi aku tak percaya pada rumus patah hati sampai mati.

Biar kuceritakan pengalaman masa remajaku yang dulu masih memandang dunia sebagai tempat berwarna merah muda. Di suatu waktu aku tiba-tiba berteriak ketika mendapati bahwa dunia itu bisa berubah menjadi kelabu.

Orang tuaku mengatakan, sakit hati yang dulu kurasakan itu tak akan membawaku mati. Tapi ada penyakit hati yang bisa membuat jalanmu mulus ke neraka.
Aku masih ingin ending yang bahagia ketika itu, seromantis yang bisa dibayangkan anak perempuan berumur 14 tahun. Aku memutar mata mendengar petuah ini, maka kemudian aku dihadiahi sebuah buku kecil yang berjudul “Penyakit Hati.”

Satu-satunya buku yang kuterima dengan hati yang tak segembira biasanya.

Waktu itu aku sungguh ingin membaca tentang Putri yang dijemput oleh Pangeran. Aku ingin membaca tentang betapa seorang gadis bisa menemukan cinta lain. Aku ingin dihibur dengan mengetahui bahwa di sana selalu ada anak laki-laki lain yang lebih hebat, yang bisa membuat cemburu cinta pertamaku ini.

Tapi di buku itu hanya ada bahasan tentang iri, dengki, dan dendam.
Kesombongan dan takabur.
Pamer dan kelicikan.

Itulah katanya penyakit hati yang sebenarnya, yang akan benar-benar membuatmu berhenti hidup sebagai manusia.
Sekarang aku tahu, sakit hati yang ada di lagu-lagu cengeng itu hanyalah bualan saja.

Aku juga percaya, siapa pun yang yakin bahwa ia tak punya penyakit hati, itu bohong.
Apalah itu selain kesombongan ?
Dan bukankah Narcissus memang pernah hidup?

Dengan menuliskan ini pun berarti aku telah menunjukkan penyakit hatiku.
Aku hanya tak tahu seberapa parahkah ia menggerogoti, karena sampai sekarang buku itu tak pernah tuntas kubaca.

Wallahu'alam.

Sumber foto

Tuesday, June 16, 2009

Gosip Maling

Kampungku gempar semalam, katanya ada maling.
Dan rumahku gempar tadi sore, karena kami baru mendengar ceritanya hari ini.
Jangan tanyakan kenapa kami baru tahu ini tadi, karena aku pun yang masih bangun pada jam 2 malam waktu kejadian itu, tak mendengar apa-apa.

Kami di kampung ini
-rumah ini ada dalam gang, ingin kusebut kompleks tapi ya bukan- tak pernah punya kejadian yang heboh-heboh betul, dan aku pun memang tak begitu peduli dengan gosip tetangga. Seringkali aku hanya menjadi pendengar ke sekian dari mata rantai gosip ini, hingga selalu di mana pun aku berada, aku adalah orang yang terakhir tahu.

Aku baru tahu pohon mangga yang sering kucolong di kebun tetangga itu ditebang, padahal pohon itu ada di belakang rumahku. Jangankan itu, siapa Ketua RT yang baru pun aku tak tahu, jadi wajar sajalah bila pemilu kemarin itu aku tak terdaftar. Dan aku juga baru tahu ini, bahwa rumah tetangga di sebelah itu semalam hampir dimaling.

Katanya, malam itu sekitar jam 2, si Mbak penjaga rumah mendengar ada suara seperti menggaruk-garuk di dinding. Dan ketika dicek, ia melihat ada tangan terjulur lewat lubang angin di atas pintu.
Kontan si Mbak berteriak dan langsung menghambur keluar rumah. Menurutku tindakan ini adalah refleks Si Mbak yang luar biasa berani, karena ia lupa untuk berpikir bahwa mungkin saja si calon maling itu adalah orang kejam dan berkawan, yang bisa saja berbuat sesuatu yang bisa membuat Si Mbak untuk terpaksa diam.

Untunglah, di luar, Si Maling sudah tak kelihatan, mungkin kaget dengan teriakan Si Mbak. Kemudian beberapa warga kampung yang ronda dan pemuda yang biasa nongkrong mendengar keributan. Entah apa alasannya, padahal tak ada yang sempat dicuri, mereka memanggil polisi. Tiga sekaligus yang datang!

Aku tak tahu persis kejadiannya bagaimana, tapi katanya, di antara kerumunan itu rupanya sudah sejak awal si maling menyaru menjadi orang yang ikut penasaran dengan keributan itu. Ia bahkan bertanya, Ono opo tho Kang, kok ribut-ribut?”
Tak ada yang curiga pada maling berperawakan kecil ini, padahal wajahnya tak familiar. Dan baru terpikir sekarang, kenapa ia sebagai orang luar berada di kampung sini pada jam 2 pagi?

Maka saat itulah, entah karena analisa yang memang hebat ataukah hanya karena ia sudah begitu sering berhadapan dengan kasus serupa, seorang polisi melihat ada bekas putih di kaki si maling, yang menandakan bahwa ia baru saja memanjat dinding rumah tetanggaku itu dalam usaha menggapai lubang udara.
Tertangkaplah ia, dan berikutnya ditemukan beberapa bukti yang memberatkan.

Kisah selanjutnya di kantor polisi ?
Ah, tak usahlah kuceritakan, kau toh sudah tahu.

Saat aku mendengar kejadian ini, tanpa kukehendaki aku merasa kagum pada kerja si polisi. Hanya dia yang menyadari ada keganjilan di kaki si maling. Orang-orang lain mana sadar, paling hanya ada yang sok-sokan tahu ketika si maling sudah tertangkap, bahwa katanya dia sudah dari awal curiga.
Bah, gayanya saja kuat.

Membayangkan bagaimana cara kerja polisi itu, aku langsung teringat dengan Hercule Poirot dan Conan, dua detektif yang punya kemampuan analisa yang mendalam meskipun mereka hanyalah tokoh fiktif.
Conan hanya perlu menghubung-hubungkan fakta ganjil, dan setelah itu ia akan meminjam suara Detektif Mouri. Atau favoritku Hercule Poirot, yang tak peduli pada sidik jari ataupun bukti yang jelas berupa pistol di lemari baju, misalnya. Poirot berkata, temukanlah fakta dan singkirkan opini. Buatlah pembeda antara keduanya.
Dan dari sana, walaupun telah diputar-putarkan sampai ke beberapa negara sekalipun, sel-sel kelabunya akan menemukan jawaban teka-teki itu tepat di hadapan mata.

Terberkatilah orang yang punya analisa yang kuat, atau mungkin dalam hal ini kepekaan dalam melihat suatu kejadian atau keadaan yang tak biasa.
Aku tak berbakat di sana.
Aku ini tak peka, kecuali untuk hal-hal yang menjadi perhatianku, dan parahnya itu sedikit sekali.
Memang susah untuk menjadi orang yang terlalu asyik dengan dunia sendiri, sampai tak peduli ada tetangga yang disambangi maling, padahal saat itu aku sedang berkutat dengan komputer di kamar.
Jaraknya hanya dua bukaan pintu, tapi aku tak mendengar apa-apa.

Saat aku mengungkapkan keprihatinanku pada tetangga sebelah, seorang tetangga lain menyelutuk, “Piye tho Mbak, kok bisa ketinggalan gosip hangat.”
Aku hanya menyeringai. Susah menanggapi orang bergosip. Mau bilang aku tak suka bergosip, kok ya kedengarannya kasar. Aku ini kan pendatang, belum genap 3 tahun aku di sini. Apa pula lah nanti kata mereka, sedang pulang kerja jam 12 malam pun aku pernah digunjing.

Haiyah …

Memang aku tak peduli gosip, tapi sebenarnya aku tak tahu, apakah aku ini tak suka gosip atau hanyalah tak peka.
Entah kenapa orang-orang di sekitarku bisa membuat perbedaan keduanya hanya setipis tirai jendela, sampai pernah aku dihinggapi satu jenis rasa aneh yang mendekati malu ketika suatu saat aku bertanya siapa nama istri Pasha, dan aku dijawab bahwa mereka sudah bercerai.
“Huu, dasar ketinggalan zaman.” Kata temanku waktu itu.

Heh?! Sejak kapan tak tahu gosip artis itu dianggap ketinggalan zaman?

Saturday, June 13, 2009

Diet ??

Serba salah.
Gemuk salah. Kurus salah.

Setiap kali aku bertemu dengan teman lama, mereka hampir selalu berkata, “Kok sekarang jadi kurus begitu?”
Atau bila bertemu orang baru, “Kamu diet apa? Bagi-bagi rahasia dong.”

Astaga!
Aku tak pernah berdiet. Sumpah.
Entah itu untuk diet kesehatan, atau diet menguruskan badan.
Lagi pula entah kapan kata diet ini mengalami pergeseran makna. Bukankah sejatinya diet itu berarti pengaturan pola makan, dan bukannya menahan makan?

Kukatakan padamu, aku kurus begini karena ada yang salah di sistem pencernaanku.
Bukan maag bukan apa. Entahlah apa namanya.
Dokter yang pertama bilang ada infeksi di saluran pencernaan. Dokter yang kedua malah cuma mengatakan dua hal ketika kutanyakan apa masalahku, yaitu apakah aku tak pernah makan ataukah badanku memang terdiri dari tulang semua. Katanya pencernaanku busuk.
Tega betul Dokter itu.

Aih, memang cetakannya begini.
Lagi pula aku bingung, bagaimana mungkin aku bisa kena masalah pencernaan bila makanku banyak?
Setelah diingatkan lagi tentang pola makan yang sehat, baru aku sadar bahwa makanku tak berpola, bahwa aku makan sungguh seperti yoyo.

Aku dikenal sebagai cewek yang makannya banyak.
Aku biasa makan dengan porsi besar seperti kuli yang tak bertemu nasi tiga hari tiga malam.
Tapi kadang bila asyik dengan satu kegiatan atau banyak pikiran, seharian aku lupa makan. Dalam arti sebenarnya, aku lupa memasukkan makanan ke perut, walaupun cuma sepotong kecil tempe atau seremah roti.

Contohnya saat aku mengebut pekerjaan. Atau menikmati sebuah buku yang bagus. Kadang aku bahkan lupa makan bila terlalu asyik ber-internet. Dan internet yang kumaksud di sini adalah facebook dan blogwalking dan chatting, dan hanya sedikit browsing. Memalukan.
Aku pun otomatis tak makan bila patah hati, aku tahan cuma hidup dengan kopi saja.

Setelah kuceritakan ini pada Dokter yang tega itu, dia hanya menyeringai sinis.
Tak perlu menunggu keterangannya pun, aku tahu apa jawabannya bahkan ketika ceritaku belum selesai.

Jadi, jangan pernah sekalipun bilang aku berdiet.
Aku benci! Aku benci bila ada orang yang bilang aku diet.
Aku kurus bukan karena tak makan. Aku kurus hanya karena pencernaanku busuk.

Aku sungguh mati ingin menggemukkan badan.
Sudah kucoba "semua" obat dan jamu yang kutahu supaya bisa gemuk. Obat China, herbal, susu, jamu beras kencur, totok atau apalah itu.
Yang ada makanku malah tambah banyak, selalu lapar, dan selalu mengantuk. Bawaanya cuma mau makan, tidur, bangun makan lagi, kenyang tidur lagi. Begitu terus sampai bosan.
Tak jua gemuk.

Sudahlah.
Pertama karena memang pencernaanku ini busuk, lagi.
Dan kedua, karena memang aku sudah mentok sampai ukuran begini.

Itulah makanya aku tak paham, kenapa ada yang rela-rela diet ketat, tak makan nasi, olahraga sampai semaput, operasi puluhan juta, hanya supaya bisa melihat angka timbangan berkurang.
Kau tau apa yang kulakukan??
Aku juga menghindari timbangan. Bila tiba saat aku menimbang badan, kulonjak-lonjakkan tubuhku seolah ingin mengagetkan si jarum timbangan agar ia mau bergerak ke kanan barang dua tiga angka.
Tak ada hasil.

Untuk apa teman, kau ingin kurus? Aku saja ingin gemuk.

*BUZZ*

???!!

Telingaku baru saja terasa disentil dengan keras.

Apakah aku baru saja memprotes mereka yang ingin menurunkan berat badan supaya bisa mendapatkan bentuk tubuh ideal ?
Bukankah selama ini obsesiku ingin gemuk itu pun dalam rangka mendapatkan bentuk tubuh impian ?

Ohh, aku telah berbuat salah.
Betapa sempit pandanganku.
Maafkan bila kata-kataku ini menyinggungmu. Rupanya memang di mana-mana sama, apa pun jenis keluhannya, rupanya kebanyakan wanita memang tak merasa cukup dengan bentuk tubuhnya, eh?

Aku pun begitu.
Aku begitu.

Tapi, oh .. izinkan aku bicara sekali lagi.
Berhentilah berusaha menjadi kurus.
Nanti kau akan seperti aku. Sungguh kurus itu tak enak.

Saat berjalan di tengah hujan lebat, payung yang kaugunakan untuk melindungimu cuma akan menarikmu dan kau berasa benar-benar akan diterbangkan angin.
Kau akan kesulitan mencari baju dengan ukuran XS.
Tetanggamu di kampung akan berkata bahwa kau terlibat dengan narkoba.
Malah ada Ibu-Ibu yang meragukan aku kelak bisa melahirkan secara normal mengingat ukuran pinggulku.

Tak enak.
Benar.
Sejak Si Dokter yang kejam itu berkata pencernaanku busuk, aku berhenti membayangkan punya tubuh yang semlohay dan berisi. Aku (berusaha) meyakini bentuk tubuhku ini ideal.

Tak apa orang bilang bahwa aku dan ukuran miniku ini tak menggoda laki-laki.

Aku dan kau istimewa, bukan begitu ?
Coba saja tanya pacar atau suamimu. Bila ia berkata sebaliknya, bahwa kau tak sempurna, ingatkan saja dia tentang perut gendutnya atau pantat teposnya.

Masih saja tak percaya kau istimewa ?
Tanyakan pada Ibumu, sana.

Template has been modified and taken from this site